Tuesday, October 26, 2010

Dampak Limbah

Dampak Limbah





Dampak
Limbah



1. Limbah Industri Pangan


Sektor Industri/usaha kecil pangan yang mencemari lingkungan antara lain ;
tahu, tempe, tapioka dan pengolahan ikan (industri hasil laut). Limbah usaha
kecil pangan dapat menimbulkan masalah dalam penanganannya karena mengandung
sejumlah besar karbohidrat, protein, lemak , garam-garam, mineral, dan
sisa0sisa bahan kimia yang digunakan dalam pengolahan dan pembersihan.
Sebagai contohnya limbah industri tahu, tempe, tapioka industri hasil laut
dan industri pangan lainnya, dapat menimbulkan bau yang menyengat dan polusi
berat pada air bila pembuangannya tidak diberi perlakuan yang tepat.


Air buangan (efluen) atau limbah buangan dari pengolahan pangan dengan
Biological Oxygen Demand ( BOD) tinggi dan mengandung polutan seperti tanah,
larutan alkohol, panas dan insektisida. Apabila efluen dibuang langsung ke
suatu perairan akibatnya menganggu seluruh keseimbangan ekologik dan bahkan
dapat menyebabkan kematian ikan dan biota perairan lainnya.



2. Limbah Industri Kimia & Bahan Bangunan


Industri kimia seperti alkohol dalam proses pembuatannya membutuhkan air
sangat besar, mengeakibatkan pula besarnya limbah cair yang dikeluarkan
kelingkungan sekitarnya. Air limbahnya bersifat mencemari karena didalamnya
terkandung mikroorganisme, senyawa organik dan anorganik baik terlarut
maupun tersuspensi serta senyawa tambahan yang terbentuk selama proses
permentasi berlangsung.


Industri ini mempunyai limbah cair selain dari proses produksinya juga, air
sisa pencucian peralatan, limbah padat berupa onggokan hasil perasan,
endapan Ca SO4, gas berupa uap alkohol. kategori limbah industri ini adalah
llimbah bahan beracun berbahayan (B3) yang mencemari air dan udara.


Gangguan terhadap kesehatan yang dapat ditimbulkan efek bahan kimia toksik :


a.

Keracunan yang akut, yakni keracunan akibat masuknya dosis tertentu kedalam
tubuh melalui mulut, kulit, pernafasan dan akibatnya dapat dilihat dengan
segera, misalnya keracunan H2S, Co dalan dosis tinggi. Dapat menimbulkan
lemas dan kematian. Keracunan Fenal dapat menimbulkan sakit perut dan
sebagainya.


b.

Keracunan kronis, sebagai akibat masuknya zat-zat toksis kedalam tubuh dalam
dosis yang kecil tetapi terus menerus dan berakumulasi dalam tubuh, sehingga
efeknya baru terasa dalam jangka panjang misalnya keracunan timbal, arsen,
raksa, asbes dan sebagainya.


Industri fermentasi seperti alkohol disamping bisa membahayakan pekerja
apabila menghirup zat dalam udara selama bekerja apabila tidak sesuai dengan
Threshol Limit Valued (TLV) gas atau uap beracun dari industri juga dapat
mempengaruhi kesehatan masyarakat sekitar.


Kegiatan lain sektor ini yang mencemari lingkungan adalah industri yang
menggunakan bahan baku dari barang galian seperti batako putih, genteng,
batu kapur/gamping dan kerajinan batu bata. Pencemaran timbul sebagai akibat
dari penggalian yang dilakukan terus-menerus sehingga meninggalkan
kubah0kubah yang sudah tidak mengandung hara sehingga apabila tidak
dikreklamasi tidak dapat ditanami untuk ladang pertanian.



3. Limbah Industri Sandang Kulit & Aneka


Sektor sandang dan kulit seperti pencucian batik, batik printing, penyamakan
kuit dapat mengakibatkan pencemaran karena dalam proses pencucian
memerlukanair sebagai mediumnya dalam jumlah yang besar. Proses ini
menimbulkan air buangan (bekas Proses) yang besar pula, dimana air buangan
mengandung sisa-sisa warna, BOD tinggi, kadar minyak tinggi dan beracun
(mengandung limbah B3 yang tinggi).



4. Limbah Industri Logam & Ekektronika.


Bahan buangan yang dihasilkan dari industr besi baja seperti mesin bubut,
cor logam dapat menimbulkan pemcemaran lingkungan. Sebagian besar bahan
pencemarannya berupa debu, asap dan gas yang mengotori udarasekitarnya.
Selain pencemaran udara oleh bahan buangan, kebisingan yang ditimbulkan
mesin dalam industri baja (logam) mengganggu ketenangan sekitarnya. kadar
bahan pencemar yang tinggi dan tingkat kebisingan yang berlebihan dapat
mengganggu kesehatan manusia baik yang bekerja dalam pabrik maupun
masyarakat sekitar.


Walaupun industri baja/logam tidak menggunakan larutan kimia, tetapi
industri ini memcemari air karena buanganya dapat mengandung minyak pelumas
dan asam-asam yang berasal dari proses pickling untukmembersihkan bahan
plat, sedangkan bahan buangan padat dapat dimanfaatkan kembali.


Bahaya dari bahan-bahan pencemar yang mungkin dihaslkan dari proses-proses
dalam industri besi-baja/logam terhadap kesehatan yaitu :


a.


Debu,
dapat menyebabkan iritasi, sesak nafas


b.


Kebisingan,
mengganggu pendengaran, menyempitkan pembuluh darah, ketegangan otot,
menurunya kewaspadaan, kosentrasi pemikiran dan efisiensi kerja.


c.


Karbon Monoksida (CO),
dapat menyebabkan gangguan serius, yang diawali dengan napas pendek dan
sakit kepala, berat, pusing-pusing pikiran kacau dan melemahkan penglihatan
dan pendengaran. Bila keracunan berat, dapat mengakibatkan pingsan yang bisa
diikuti dengan kematian.


d.


Karbon Dioksida (CO2),
dapat mengakibatkan sesak nafas, kemudian sakit kepala, pusing-pusing, nafas
pendek, otot lemah, mengantuk dan telinganya berdenging.


e.


Belerang Dioksida (SO2),
pada konsentrasi 6-12 ppm dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan
tenggorokan, peradangan lensa mata (pada konsentrasi 20 ppm), pembengkakan
paru-paru/celah suara.


f.


Minyak pelumas,
buangan dapat menghambat proses oksidasi biologi dari sistem lingkungan,
bila bahan pencemar dialirkan keseungai, kolam atau sawah dan sebagainya.


g.


Asap,
dapat mengganggu pernafasan, menghalangi pandangan, dan bila tercampur
dengan gas CO2, SO2, maka akan memberikan pengaruh
yang nenbahayakan seperti yang telah diuraikan diatas.

PROYEK ILMIAH

Proyek ilmiah adalah serangkaian kegiatan penelitian yang dilakukan dengan
megikuti prosedur standar tertentu yang disebut metode ilmiah. Prosedur ini
sangat penting untuk diikuti karena salah satu ciri proyek ilmiah yang utama
adalah replicable (dapat diulang), artinya apabila orang lain
melakukan eksperimen serupa dengan prosedur standar yang sama akan diperoleh
hasil yang serupa pula. Jelas bahwa dengan metode ilmiah (melalui prosedur
standar yang sama) orang lain dapat menguji apakah suatu proyek ilmiah
dapat dipertanggungjawabkan.

Bagian akhir dari proyek ilmiah adalah menuliskan laporan proyek ilmiah agar
hasil yang telah diperoleh dapat bermanfaat bagi orang lain. Laporan proyek
ilmiah dapat dituliskan dalam berbagai bentuk dan format, tetapi di sini
hanya akan dibahas bentuk umum laporan proyek ilmiah di lingkungan sekolah
menengah.



Secara umum laporan proyek ilmiah meliputi:




Halaman Judul


Penulisan judul diletakkan di
tengah halaman, disertai nama penulisnya di bawah judul. Judul sebaiknya
mencerminkan isi proyek tetapi tidak boleh sama dengan pertanyaan
permasalahan.




Daftar Isi


Halaman kedua setelah
halaman judul adalah daftar isi. Daftar isi berisikan sekumpulan daftar
semua hal dalam laporan




Abstrak


Abstrak merupakan ringkasan isi
proyek. Biasanya abstrak tidak lebih dari satu halaman yang berisikan judul,
tujuan, hipotesis, diskripsi singkat prosedur eksperimen dan hasil.




Pendahuluan


Pendahuluan merupakan pernyataan
dari tujuan dan latar belakang yang terkait dengan judul proyek ilmiah.
Dalam pendahuluan harus terkandung pula ringkasan pernyataan hipotesis.




Pelaksanaan Eksperimen dan Data


Pada bagian ini sebutkan setiap
percobaan yang akan dilakukan. Pada setiap percobaan harus disertakan tujuan
percobaan, diikuti dengan daftar bahan yang digunakan beserta jumlahnya,
kemudian dilanjutkan dengan prosedur atau langkah-langkah untuk melakukan
percobaan. Tuliskan percobaan-percobaan tersebut secara jelas dan rinci agar
mudah diikuti sehingga siapa pun yang melakukannya akan mendapatkan hasil
yang sama (serupa).

Mengikuti setiap percobaan yang
dilakukan tuliskan semua pengukuran dan pengamatan yang telah dilakukan
selama percobaan berlangsung.
Grafik, tabel, dan
diagram yang dibuat berdasarkan data harus diberi label (keterangan) dan
apabila mungkin dengan warna-warni. Jika data yang digunakan dalam
eksperimen amat banyak jumlahnya, cukup rangkumannya saja yang dituliskan
pada bagian ini, sedangkan data lengkap sebaiknya diletakkan dalam lampiran.
Lakukan analisis
atas data yang telah diperoleh dan berikan interpretasi (makna) terhadap
hasil analisis tersebut.




Kesimpulan


Simpulkan hasil
eksperimen yang telah dilakukan dan periksa apakah hasil eksperimen tersebut
telah menjawab pertanyaan yang dipermasalahkan. Bandingkan pula hasil
eksperimen tersebut dengan hipotesis yang diajukan sebelum eksperimen
dilakukan. Berikan ulasan ringkas mengapa terjadi kesesuaian atau
ketidak-sesuaian.




Ucapan terima kasih (jika ada)


Jika ada, sampaikan terima kasih
kepada semua pihak yang telah membantu pelaksanaan proyek ilmiah yang
dilakukan, misalnya nara sumber, sponsor, pemberi
fasilitas percobaan, dan sebagainya




Daftar Pustaka




Tuliskan sumber-sumber pustaka
yang digunakan secara lengkap dan urutkan sumber-sumber tersebut secara
alfabetik berdasarkan nama belakang pengarang.

Untuk sumber berupa buku gunakan
urutan: nama pengarang. tahun terbit. judul buku. nama penerbit. kota tempat
penerbit. halaman.

Untuk sumber berupa jurnal
gunakan urutan: nama pengarang. tahun terbit. judul artikel. nama jurnal.
volume jurnal. halaman tempat artikel dimuat.

Untuk sumber berupa
koran gunakan urutan: nama pengarang. tahun terbit. judul artikel. nama
koran. kota tempat penerbit. tanggal terbitan. halaman.

Untuk sumber berupa
web-site gunakan urutan: nama pengarang. tahun terbit. judul artikel. alamat
web-site.

Laporan Penelitian Pengaruh Intensitas Cahaya

30 Oktober 2009
Laporan Penelitian Pengaruh Intensitas Cahaya


BAB I

A. PENDAHULUAN
Banyak proses yang berlangsung dalam daun, tetapi yang menjadi pembeda dan yang terpenting ialah proses pembuatan bahan makanan. Tumbuhan hijau memiliki kemampuan membuat makanan dari bahan-bahan baku dari tanah dan udara, dan pada aktifitas inilah bergantung kehidupan tumbuhan dan kehidupan seluruh binatang dan manusia.
Seluruh benda hidup memerlukan energi tidak saja untuk pertumbuhan dan reproduksi, tetapi juga untuk mempertahankan kehidupan itu sendiri. Energi ini berasal dari energi kimiawi dalam makanan yang dikonsumsi, sedangkan makanan itu asalnya dari proses fotosintesis.

Daun berfungsi sebagai organ utama fotosintes pada tumbuhan tingkat tinggi. Evolusi daun telah mengembangkan suatu struktur yang akan menahan kekerasan lingkungan namun juga efektif dalam penyerapan cahaya dan cepat dalam pengambilan CO2 untuk fotosintesis. Kebanyakan daun tanaman budidaya mempunyai :
1. Permukaan luar yang luas dan datar,
2. lapisan pelindung permukaan atas dan bawah,
3. banyak stomata per satuan luas,
4. permukaan daun yang luas dan rongga udara yang saling berhubungan,
5. sejumlah besar kloroplast dalam setiap sel, dan
6. hubungan yang erat antara ikatan pembuluh dan sel-sel fotosintesis.
Sehelai daun yang ideal untuk pertukaran gas dan penangkapan cahaya adalah setebal satu sel, tetapi kekerasan lingkungan alami menuntut beberapa lapisan sel dan pelindung permukaan agar tetap lestari

B. TUJUAN
Tujuan dari penelitian pengaruh cahaya terhadap pertumbuhan biji kacang hijau adalah: mengetahui pengaruh intensitas cahaya matahari terhadap kecepatan fotosintesa tanaman Hydrilla verticulata.

C. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah intensitas cahaya berpengaruh terhadap cepat fotosintesis tumbuhan Hydrilla verticulata ?

D. HIPOTESIS
1. Cahaya sangat berpengaruh terhadap cepat fotosintesis tumbuhan Hydrilla verticulata

BAB II
A. ALAT DAN BAHAN
• Tanaman Hydrilla verticulata
• Gelas beaker
• Air
• Funel
• Tabung Reaksi
• Stropwatch

B. LANGKAH PERCOBAAN / PROSEDUR
1. Setting Percobaan (Waktu dan Tempat Percobaan)
Waktu : 30 Menit
Tempat : Cukup Cahaya : Di lapangan sekolah
Kurang Cahaya : Di dalam kelas
2. Variabel Penelitian
• Variabel bebas : Cahaya.
• Variabel terikat : Banyak gelembung,
• Variabel kontrol: Kadar air, kelembaban , dan pH kapas, kualitas tanaman, nutrisi.
3. Definisi Operasional Variabel (Bentuk-bentuk Perlakuan)
• Variabel bebas (Cahaya) :
Tanaman Hydrilla verticulata diletakkan di tempat yang kurang mendapat cahaya dan cukup cahaya.
• Variabel terikat (Banyak Gelembung) :
Tanaman Hydrilla verticulata diamati banyak gelembung yang digasilkan dalam jangka waktu tiap 10 menit.
• Variabel kontrol (kadar air) :
Diukur kadar air tanaman Hydrilla verticulata.

4. Cara Pengamatan / Pengukuran
1. Siapkan alat dan bahan.
2. gelas beaker diisi dengan air sampai ¾ bagian, sebanyak 2 buah.
3. Dimasukkan Hydrilla verticulata ke dalam gelas beaker dan ditahan dengan menggunakan funnel hingga setinggi 2cm dari dasar gelas beaker dan ditegakkan dengan menggunakan kawat
4. Beri air pada gelas penutup sam[pai tidak ada gelembung lagi.
5. Ditutup ujung funnel dengan tabung reaksi sehingga berisi air tetapi tidak boleh ada gelembung udara di dalam tabung reaksi
6. Beri nama A dan B pada masing-masing gelas beaker.
7. Letakkan gelas A di tempat yang mendapat cahaya.
8. Letakkam gelas B di tempat yang kurang cahaya
9. Amati pada interval 10 menit sebanyak 3 kali.
10. dihitung kecepatan fotosintesis dengan banyaknya helembung yang naik ke atas gelas penutup.


BAB III

A. DATA HASIL PERCOBAAN
1.1 Tabel Pengamatan

Terang
Interval Waktu (tiap 10 menit) 0-10 10-20 20-30
Banyak Gelembung 4 14 25

Gelap
Interval Waktu (tiap 10 menit) 0-10 10-20 20-30
Banyak Gelembung 2 4 14





B. ANALISA DATA
Dari hasil percobaan dapat dilihat bahwa kecepatan fotosintesa antara Tanaman yang berada di tempat terang lebih cepat berfotosintesa daripada di tempat yang kekurangan cahaya. Hal ini terjadi karena proses fotosintesis dibantu demgam adanya cahaya hal ini sesuai dengan teori yang telah dikemukakan dan telah diakui.
Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa kecepatan fotosintesa yang paling cepat adalah pada menit ke 30 di tempat yang mendapatkan banyak cahaya.
Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa kecepatan fotosintesa yang paling lambat adalah pada menit ke 10 di tempat yang kurang mendapatkan cahaya.
Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa ada faktor-faktor lain yang mempengaruhi proses fotosintesa selain cahaya yaitu air, karbondioksida, dan suhu. Hal ini sesuai dengan teori yang menjelaskan Fotosintesis bergantung pada :
a. faktor luar, yaitu hara , mineral, air, karbondioksida, suhu, dan energi
b. faktor dalam, yaitu pigmen, enzim, dan tingkat organisasi.
Dari hasil percobaan dapat diketahui bahwa CO2 berpengaruh terhadap kecepatan fotosintesa, dimana NADH dan ATP diproduksi oleh reaksi terang dan dipakai untuk merombak organik CO2 menjadi organik karbon.

BAB IV
1. Kesimpulan
1. Dari percobaan tersebut diketahui proses fotosintesis yang paling lama terjadi pada menit 10 di tempat yang kekuranagan cahaya
2. Proses Fotosintesis yang paling cepat terjadi pada menit ke 30 di tempat yang mendapatkan cahaya.
3. Dari percobaan tersebut diketahui tumbuhan yang berada di tempat yang mendapat banyak cahaya memiliki kecepatan rata-rata fotosintesa lebih cepat daripada tumbuhan yang diletakkan di tempat yang kurang mendapat cahaya

2. Saran
Sebaiknya praktikum dilakukan pada pagi hari saat matahari mulai muncul agar didapat hasil yang akurat dan sebaiknya membawa payung pada saat praktikum supaya tidak kepanasan.

Tata Surya Bagian Dalam

Tata Surya Bagian Dalam

Tata Surya bagian dalam adalah nama umum yang mencakup planet kebumian dan asteroid. Terutama terbuat dari silikat dan logam, objek dari Tata Surya bagian dalam melingkup dekat dengan matahari, radius dari seluruh daerah ini lebih pendek dari jarak antara Yupiter dan Saturnus.
Planet-Planet Bagian Dalam

Planet-planet bagian dalam. Dari kiri ke kanan: Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars

Empat planet bagian dalam atau planet kebumian (terrestrial planet) memiliki komposisi batuan yang padat, hampir tidak mempunyai atau tidak mempunyai bulan dan tidak mempunyai sistem cincin. Komposisi Planet-planet ini terutama adalah mineral bertitik leleh tinggi, seperti silikat yang membentuk kerak dan selubung, dan logam seperti besi dan nikel yang membentuk intinya. Tiga dari empat planet ini (Venus, Bumi dan Mars) memiliki atmosfer, semuanya memiliki kawah meteor dan sifat-sifat permukaan tektonis seperti gunung berapi dan lembah pecahan. Planet yang letaknya di antara matahari dan bumi (Merkurius dan Venus) disebut juga planet inferior.
Merkurius

Merkurius (0,4 SA) adalah planet terdekat dari matahari serta juga terkecil (0,055 massa bumi). Merkurius tidak memiliki satelit alami dan ciri geologisnya di samping kawah meteorid yang diketahui adalah lobed ridges atau rupes, kemungkinan terjadi karena pengerutan pada perioda awal sejarahnya.[26] Atmosfer Merkurius yang hampir bisa diabaikan terdiri dari atom-atom yang terlepas dari permukaannya karena semburan angin matahari.[27] Besarnya inti besi dan tipisnya kerak Merkurius masih belum bisa dapat diterangkan. Menurut dugaan hipotesa lapisan luar planet ini terlepas setelah terjadi tabrakan raksasa, dan perkembangan (“akresi”) penuhnya terhambat oleh energi awal matahari.[28][29]

Venus

Venus (0,7 SA) berukuran mirip bumi (0,815 massa bumi). Dan seperti bumi, planet ini memiliki selimut kulit silikat yang tebal dan berinti besi, atmosfernya juga tebal dan memiliki aktivitas geologi. Akan tetapi planet ini lebih kering dari bumi dan atmosfernya sembilan kali lebih padat dari bumi. Venus tidak memiliki satelit. Venus adalah planet terpanas dengan suhu permukaan mencapai 400 °C, kemungkinan besar disebabkan jumlah gas rumah kaca yang terkandung di dalam atmosfer.[30] Sejauh ini aktivitas geologis Venus belum dideteksi, tetapi karena planet ini tidak memiliki medan magnet yang bisa mencegah habisnya atmosfer, diduga sumber atmosfer Venus berasal dari gunung berapi. [31]

Bumi

Bumi adalah planet bagian dalam yang terbesar dan terpadat, satu-satunya yang diketahui memiliki aktivitas geologi dan satu-satunya planet yang diketahui memiliki mahluk hidup. Hidrosfer-nya yang cair adalah khas di antara planet-planet kebumian dan juga merupakan satu-satunya planet yang diobservasi memiliki lempeng tektonik. Atmosfer bumi sangat berbeda dibandingkan planet-planet lainnya, karena dipengaruhi oleh keberadaan mahluk hidup yang menghasilkan 21% oksigen.[32] Bumi memiliki satu satelit, bulan, satu-satunya satelit besar dari planet kebumian di dalam Tata Surya.

Mars

Mars (1,5 SA) berukuran lebih keci dari bumi dan Venus (0,107 massa bumi). Planet ini memiliki atmosfer tipis yang kandungan utamanya adalah karbon dioksida. Permukaan Mars yang dipenuhi gunung berapi raksasa seperti Olympus Mons dan lembah retakan seperti Valles marineris, menunjukan aktivitas geologis yang terus terjadi sampai baru belakangan ini. Warna merahnya berasal dari warna karat tanahnya yang kaya besi. Mars mempunyai dua satelit alami kecil (Deimos dan Phobos) yang diduga merupakan asteroid yang terjebak gravitasi Mars.

Thursday, October 21, 2010

Revolusi Ilmu Thomas Khun

Revolusi Ilmu Thomas Khun

Pencapaian yang memiliki dua karakteristik disebut paradigma yang erat kaitannya dengan sains yang normal yang bersama-sama mencakup dalil, teori, penerapan , dan istrumentasi yang akan menjadikan model-model, dari itu lahirlah tradisi-tradisi tertentu dari riset ilmiah. Paradigma-paradigma yang jauh terspesialisasi sebagai ilustrasi, yang menstimulus untuk dipraktekkan dikemudian hari. Komitmen serta konsensus yang jelas serta yang dihasilkan merupakan prasyarat bagi sains yang normal, yaitu bagi penciptaan tradisi riset.

Pencapaian ilmiah yang kongkrit sebagai tempat komitmen profesional daripada konsep, dalil teori, dan acuan yang sangat vital. Dalam arti paradigma atau dialektika merupakan kesatuan fundamental dalam perkembangan sains, yang logisnya menjadi komponen-komponen atom yang berfungsi sebagai pengganti. Perolehan paradigma atau tipe riset yang langka sebagai indikator kematangan dalam perkembangan sains. Transformasi paradigma merupakan revolusi sains dan transisi yang berurutan dengan paradigma yang satu ke paradigma selanjutnya melalui revolusi suatu perkembangan sains yang telah matang.

Definisi apapun dari ilmuwan yang mengecualikan, setidak-tidaknya harus lebih kreatif dan inovativ karena aliran yang lain dn penerusnya dari zaman modern akan mengecualikan juga. Yang menjadi ciri-ciri pada tahap awal perkembangan sains adalah terciptanya alira-aliran baru. Tidak ada sejarah yang bisa di interpretasi tanpa adanya kumpulan teoritis dan metodologis yang saling berkolerasi lengkap yang harus adanya pemilihan, penilaian dan kritik. Karena jika kumpulan kepercayaan belum lengkap pengumpulan faktanya, maka harus dipasok dari luar oleh metafisika atau oleh sains yang lain serta oleh kejadian yang personal dan historis.

Tidak mengherankan lagi, pada tahap-tahap awal perkembangan sains manapun dalam persepsi berbeda deretan masalah yang sama atau melukiskan dan menafsirkan gejala-gejala itu dengan cara yang berbeda, akan tetapi, perbedaan itu lambat laun akan semakin menghilang. Hilangnya perbedaan itu bisanya diawali dengan kemenangan salah satu aliran pra padigma, karena karesteristik kepercayaan dan persepsinya sendiri masih belum berubah informasi dan dalilnya yang relatif lemah. Agar dapat diterima sebagai paradigma sebuah teori harus lebih baik daripada saingannya, tetapi tidak perlu menerangkan semua fakta pada saingannya.

Agar paradigma itu dapat di terima oleh semua elemen dan melakukan pekerjaan itu lebih efektif harus ada semacam debat (sharing) dan juga memperjelas kepada para ilmuwan yang lain agar bisa yakin mereka berada di jalan yang benar-benar memotivasi para ilmuwan suatu pekerjaan yang lebih tepatdan belum banyak memahami hal tersebut serta lebih menonjol. Sehingga para ilmuwan dapat menyelidiki gejala yang lebih rinci dan menggunakannya lebih tekun, sistematis dan logis daripada yang di lakukan ilmuwan yang lain. Baik menyangkut pengumpulan fakta maupun pengutaraan teori agar lebih terarah (spektakuler-red), seperti yang di utarakan oleh Francis Bacon “kebenaran lebih mudah muncul dari kesalahan ketimbang dari kekacauan”. Dan jika dalam perkembangan sains ke-alam-an seseorang atau kelompok mampu mengaplikasikan dari pempraktik generasi selanjutnya, maka secara berangsur-angsur aliran lama akan lenyap dengan sendirinya. Hilangnya alirang-aliran itu sebagian di sebabkan pembelotan anggotanya klhghah pada paradigma yang baru. Walaupun pasti ada yang masih menganut pada salah satu pandangan yang lebih senior, hal ini akan dikeluarkan dari profesinya dan terlupakan karya-karya mereka.

Paradigma baru akan menyiratkan hal yang baru pula dan lebih kaku di bidangnya, mereka cenderung tetap, departemen filsafat akan melahirkan sain-sain khusus. Terkadang kesediaan menerima dan mentransformasikan kelompok yang awalnya hanya tertarik kepada studi alam kemudian menjadi profesi atau disiplin. Hal ini, berbeda dengan bidang-bidang yang lain seperti teknologi, hukum atau bidang yang lainnya. Karena yang menjadi prioritas yang utama berskala spesialisasi, pendirian masyarakat spesialis dan menuntut spesialisasi kurikulum seperti misalnya sebuah paradigma oleh kelompok. Ketika ilmuan percaya begitu saja tentang sebuah paradigma, ia tidak perlu lagi membangun kembali di bidangnya itu, hanya tetap dalam prinsip-prinsip pertama dan memperkuat setiap konsepyang diperkenalkan pertama kali.

Ilmuan yang kreatif akan memulai risetnya di bagian atau yang ada dalam buku itu sehingga dapat memfokuskan pada aspek alami yang transparan dan isoterik, komunikerisetnya akan mulai berubah dengan cara evolusinya, tetapi produk akhir modernnya menjadi realitas di masyarakat serta menyesalkan bagi semua orang. Sebaliknya, mereka hanya akan memberikan artikel-artikenya kepada rekan profesionalnya, orang yang mengerti dan paham tentang paradigma dan dapat terbukti dengan mempresentasikan dan mempertanggungjawabkan isi artikel-artikel tersebut. Sebagai wahana komunikasi, risetlah garis-garis profesionalisasi kelonggaran sehingga orang awam dapat mengikuti kemajuan dengan belajar, membaca, memahami dan mengaplikasikannya.

Paradigma adalah model atau pola yang di terima dan aspek namanya itu telah memungkinkan pengambilan paradigma itu tidak semua benar dengan pengertian yang biusa digunakan untuk mendevinisikan paradigma. Dalam penerapan yang baku, paradigma berfungsi memperbolehkan replikasi contoh yang masing-masing pada prinsipnya dapat di ganti. Disisi lain, sebuah sains paradigma menjadi objek replikasi. Akan tetapi, keputusan yudikatif yang terima dalam hukum tak tertulis menjadi objek bagi pengutaraan dan rincian lebih lanjut dalam keadaan yang baru atau lebih radikal. Sains yang normal terdiri atas perwujudan janji yang dicapai dengan memperluas pengetahuan dengan fakta-fakta yang oleh paradigma ditalarkan sebagai pembuka pikiran dengan mencocokkan fakta-fakta dengan prakiraan paradigma dengan artikulasi lebih lanjut tentang paradigma itu sendiri.

Ada tiga fokus yang normal bagi penyelidikan faktual, ketiganya itu tidak selamanya jelas.yang pertama adalah kelas fakta-fakta yang telah diperlihatkan oleh paradigma yang akan menyingkap sifat sesuatu, paradigma ini sangat bermanfaat untuk menetapkan kecermatan yang lebih tinggi maupuan dalam situasi yang variatif. Kelas kedua, biasa tetapi lebih kecil dari penetapan-penetapan fakta walaupun cenderung tampak kepentingan yang hakiki namun dapat di bandingkan secara langsung dengan paradigma.

Dan kelas ketiga, adalah menyerap seluruh kegiatan pengumpulan data sains yang normal. Kelas ini meliputi empiris yang dilaksanakan untuk mengartikulasikan teori paradigma untuk memecah- menyelesaikan ambiguitas yang masih belum terselesaikan. Upaya-upaya mengartikulasikan paradigma bagaimanapun tidak dibatasi dengan determinasi konstanta universal. Suatu paradigma merupakan parasyarat bagi bagi penemuan-penemuan hukum.

Adapun ciri-ciri yang paling menonjol dari masalah riset yang normal betapa sedikitnya masalah yang di tujukan untuk menghasilkan penemuan baru yang besar dan konseptual ekprimen di tujukan untuk mengartikulasikan suatu paradigma dan juga bisa menyerupai ekplorasi terutama sering di gunakan dalam periode-periode dan dalam sains yang lebih cenderung berurusan dengan aspek kualitatif daripada kuantitatif dari regularitas alam. Sering suatu Paradigma yang di kembangkan bagi satu perangkat gejala ambigus dalam penerapannya dengan yang lain yang sangat erat kaitannya. Kemudian eksprimen-eksprimen itu perlu memilih diantara cara-cara alternatif menerapkan Paradigma pada bidang perhatian yang lainnya. Tujuan prakiraan itu ialah untuk memperhatikan penerapan baru dari Paradigma atau untuk meningkatkan ketepatan suatu penerapan yang di buat.

Target sains yang normal hanya hal-hal yang baru yang besar dan nyata – jika kegagalan mendekati hasil yang di antisipasi itu merupakan kegagalan sebagai ilmuwan. Semestinya para ilmuwan, hasil-hasil yan di peroleh dalam riset yang normal itu signifikan karena merupakan tambahan bagi ruang lingkup dan presisi yang dapat di terapkan oleh Paradigma. Mengantarkan masalah riset yang normal kepada kesimpulan adalah mencapai apa yang di antisipasi dengan cara baru dan juga memerlukan pemecahan segala jenis teka-teki instrumental, konseptual dan matematis. Orang yang berhasil membuktikannya adalah seorang pakar pemecah tekateki dan tantangan itu merupakan bagian yang vital. Teka-teki adalah kategori khusus dari masalah-masalah yang digunakan untuk menguji kelihaian atau skill dalam pemecahannya. Karakteristik-karakteristik oleh tekateki dalam masalah sains normal perlu adanya klasifikasi dan spesialisasi dengan yang lain, yang di dapatkan oleh masyarakat ilmiah.

Paradigma ialah kriteria untuk memilih masalah-masalah yang di anggap sudah wajar dan memiliki alternatif. Masalah yang lain masih banyak yang sebelumnya menjadi standart di tolak, karena di anggap masuk dalam metafisika, masuk kepada disiplin yang lain atau terkadang terlalu rumit sehingga hasilnya tidak memadai pada alokasi waktu yang di gunakan. Masalah dalam suatu Paradigma bahkan dapat menyekat masyarakat tersebut dari yang esensial, aspek sosial yang tidak di bentuk tekateki karena tidak dapat di gunakan sebagai alat konseptual dan instrumental yang di sediakan oleh Paradigma tersebut. Salah satu alasan sains yang normal tampak maju begitu pesat seperti para pempraktik memfokuskan perhatian mereka kepada masalah yang tidak dapat di pecahkan karena minimnya pengetahuan dan kecerdasan.

Masalah-masalah sains yang normal merupakan teka-teki dalam pengertian.seseorang dapat tertarik pada sains karena hasrat untuk berguna untuk mengeksplorasi wilayah baru, harapan untuk menemukan tatanan dan dorongan untuk menguji pengetahuan yang mapan, motif-motif ini disertai juga untuk membantu mengatasi masalah-masalah tertentu yang artinya akan menyibukkan aktifitas mereka. Individu yang terlibat dalam riset yang normal tidak pernah menggerjakan yang manapun dari hal diatas. Yang kemudian menentang keyakinan bahwa ia pun cukup terampil dalam memecahkan tekateki yang belum di pecahkan oleh siapa pun. Diantara para tokoh yang besar banyak yang telah mencurahkan seluruh perhatian profesionalnya pada tekateki yang menentangnya. Setiap bidang spesialisasi tidak menyajikan yang lain untuk dikerjakan, suatu kenyataan yang membuatnya optimis dari pada jenis kecanduan yang pantas. Kesejajaran antara tekataki dan masalah sains yang normal akan di klasifikasikan sebagai pemecahkannya.juga kaidah-kaidah yang membatasi sifat pemecahan yang dapat diterima maupun langkah-langkah untuk memperolehnya.


Keunggulan Paradigma.
Untuk menemukan hubungan antara kaidah, Paradigma dan sains yang normal perlu di perhatikan terlebih dahulu bagaimana histori yang mengisolasai tempat-tempat tertentu dari kometmen yang baru di jadikan kaidah-kaidah yang di terima. Penyelidikan histori yang cermat terhadap suatu spesialitaspada masa tertentu menyingkapkan seperangkat keterangan yang berulang-ulang yang di kuasai standart tentang berbagai teori dalam penerapan konseptual, observasional dan instrumental.

Tentu saja selain itu, sejarawan akan menemukan daerah penumbrah yang ditempati pencapaian-pencapaian yang statusnya masih di ragukan. Meskipun kadang-kadang terdapat ambiguitas Paradigma-Paradigma masyarakat sains yang matang dapat di tentukan dengan relatif mudah. Tujuan laporan-laporan riset untuk menemukan unsur-unsur yang dapat di isolasi secara gamblang atau tersirat yang oleh masyarakat kemungkinan di ringkas dari Paradigma yang lebih global dan di gunakan sebagai kaidah-kaidah dalam riset. Mencari kaidah-kaidah lebih sukar ketimbang mencari Paradigma, diantara generalisasi yang di gunakan untuk melukiskan kepercayaan bersama dari masyarakat itu akan menimbulkan masalah.

Namun yang lainnya, termasuk yang digunakan sebagai ilustrasi akan tampak begitu kuat. Dan jika perpaduan tradisi riset di pahami sebagai aspek kaidah-kaidah, harus ada rincian-rincian tentang dasar bersama dalam bidan yang sesuai. Akibatna, kumpulan pencarian kaidah yang berwenang membentuk tradisi riset normal tertentu menjadi sumber frustasi yan radik dan berkesinambungan. Para ilmuwan sepakat bahwa para tokoh-tokoh terdahulu (seperti New Ton-red) telah menghasilkan pemecahan yang tampaknya permanen bagi sekelompok masalah penting. Namun kadang-kadang tanpa menyadarinya karakteristik-karakteristik abstrak tertentu yang menjadikan pemecahan itu permanen. Artinya, mereka sepakat dalam identifikasi mereka tentang paradigma tanpa sepakat dalam bahkan berupaya menghasilkan intepretasi dan rasionalisasi yang bulat tentang Paradigma. Riset yang normal dapat di tentukan sebagian oleh pemeriksaan langsung terhadap suatu Paradigma. Dan suatu proses sering di bantu tetapi tidak bergantung pada perumusan kaidah-kaidah asumsi.

Suatu jenis yang sama dapat berlaku dalam berbagai teknik dan masalah riset yang timbul dalam tradisi sains yang normal. Apa yang menjadi kesamaan diantara mereka bukanlah menjadi hal yang dapat memenuhi suatu perangkat kaidah dan asumsi yang jelas atau bahkan yang dapat di temukan seluruhnya, yaitu perangkat yang memberi karakter kepada tradisi yang menyebabkan suatu tradisi mempunyai tempat dalam pikiran ilmiah. Akan tetapi mereka bisa mempunyai pertalian karena kesamaan dan menjadi model bagi salahsatu bagian dari sekelompok sains yang oleh masyarakat telah diakui sebagai pencapaian-pencapaiannya yang telah mantap. Paradigma-Paradigma dapat menentukan sains yang normal tanpa adanya campur tangan kaidah-kaidah yang di temukan.

Anomasi dan histori Sains.

Penemuan-penemuan bukanlah peristiwa asing, melainkan episode yang di perluas dengan struktur yang terluang secara teratur. Penemuan di awali dengan kesadaran akan anomali, yakni dengan pengakuan bahwa alam dengan suatu cara telah melanggar pengharapan yang di dorong oleh paradigma yang menguasai sains yang normal yang kemudian dengan eksplorasi yang di perluas pada wilayah anomali dan akan berakhir jika teori paradigma telah di sesuaikan. Pengasimilasian suatu fakta jenis baru menuntut pada penyesuaian tambahan teori yang juga erat sekali hubungannya antara faktual dengan teoritis dalam penemuan ilmiah.

Krisis, munculnya teori Sains dan Tanggapan.

Setelah menemukan argumentasi bahwa dalam sains itu fakta dan teori, penemuan dan penciptaan tidak berbeda menurut kategori serta secara permanen dapat diantisipasi adanya lingkup. Kesadaran akan anomali memainkan peran dalam munculnya jenis-jenis gejala yang baru, maka tidak akan mengejutkan bahwa kesadaran yang serupa, tetapi lebih mendalam. Merupakan prasyarat bagi semua perubahan teori yang dapat diterima.

Sesudah mencapai status paradigma, teori ssains hanya di nyatakan tidak sahih jika ada calon alternatif untuk menggantikannya. Namun, tidak ada proses yang telah di singkapkan oleh study historis tentang perkembangan sains yang mirip dengan steriotipe pemalsual yang metodologis dengan perbandingan lansung denan alam. Tindakan mempertimbangkan yang mengakibatkan para ilmuwan menolak teori yang semula di terima, karena berdasarkan pada perbandingan teori dengan dunia. Menolak paradigma sekaligus merupakan putusan untuk menerima yang lain dan pertimbangan yang mengakibatkan putusan itu melibatkan perbandingan paradigma dengan alam ataupun satu sama yang lain. Dan alasan yang kedua, untuk meragukan bahwa para ilmuwan menolak paradigma karena dihadapkan pada anomali-anomali atau penggantinya. Alasan bagi keraguan semata-mata faktual, artinya alasan itu sendiri menggantikan teori epistemologi yang berlaku dan hal ini dapat menciptakan krisis atau memperkuat krisis yang benar-benar sudah ada.

Sifat, perlunya revolusi dan dampak Sains.

Revolusi sains sebagai epesode perkembangan nonkomulatif yang di dalamnya paradigma yang lama di ganti seluruhnya (sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan). Revolusi politik di bawa oleh kesadaran yang semakin tumbuh, yang sering terbatas pada suatu segmen dari masyarakat politik, bahwa lembaga-lembaga yang tidak lagi memadai untuk menghadapi masala-masalah yang di kemukakan oleh lingkungan yang sebagian di ciptakan oleh lembaga-lembaga itu. Revolusi sains di bawa oleh kesadaran yang semakin tumbuh yang sering terbatas pada subdevisi yang sempit dari masyarakat sains, bahwa paradigma yang ada tidak lagi berfungsi secara memadai dalam eksplorasi suatu aspek dari alam. Perkembangan politik maupun sains, kesadaran akan adanya fungsi yang dapat menyebabkan krisis merupakan prasyarat bagi revolusi.

Revolusi politik bertujuan mengubah lembaga-lembaga politik itu sendiri. oleh sebab itu, keberhasilannya memerlukan pelepasan sebagian dari perangkat lembaga untuk di ganti oleh yang lain, dan masyarakat tidak sepenuhnya di perintah oleh lembaga tersebut. Mula-mula hanya krisis yang mengurangi lembaga politik, seperti menurunnya peran paradigma. Hal ini bertujuan berdemonstrasikan bahwa study historis tentang perubahan paradigma menyingkap karakteristik yang mirip dalam evolusi sains. Seperti pemulihan diantara lembaga-lembaga politik yang berkompetisi, pemilihan diantara pemerintah paradigma yang bersaingan ternyata merupakan pemilihan diantara modus-modus kehidupan masyarakat yang bertentangan. Karena yang memiliki karakter itu, pemilihannya tidak tidak dapat di tentukan dengan prosedur evaluatif yan menjadi karakteristik yang normal, sebab tergantung pada paradigma tertentu dan paradigma itu sedang di permasalahkan sebagaimana mestinya. Masuk pada debat paradigma maka perannya perlu sekuler untuk membela paradigma itu, sekuleritas yang dilibatkan itu menyebabkan argumen-argumen salah bahkan tidak berpengaruh.

Tak tampaknya revolusi dan pemecahannya.

Tentu saja para ilmuan bukan satu-satunya kelompok yang melihat masalah disekelilingnya berkembang terus kearah keadaan sekarang yang menguntungkan. Motivasi untuk menulis sejarah kebelakang itu terdapat dimana-mana dan kekal. Akan tetapi, para ilmuan lebih terpengaruh oleh godaan untuk menulis. Mengulang sejarah karena hasil riset sains tidak menunjukkan kebergantungan yang nyata pada konteks historis dari ingkuiri, kecuali pada krisis dan revolusi karena kedudukan kontenporen ilmuan tampaknya begitu kokoh. Penurunan nilai kenyataan sejarah secara mendalam, fungsional, berakal dalam ideologi sains dan profesi yang sama yang memberikan nilai tertinggi pada rincian kenyataan jenis yang lain. Jiwa yang tidak historis pada masyarakat sains ketika ia mengatakan, rugilah sains yang buruk melupakan pendiriannya, namun ia tidak sepenuhnya benar karena sains kegiatan profesional lain masih membutuhkan pahlawan sendiri serta melestarikan nama-nama mereka.

Hasilnya adalah kecenderungan yang terus-menerus membuat sejarah sains tampil lurus atau komulativ, bahkan mempengaruhi para ilmuan yang melihat kebelakang pada riset mereka sendiri.Sebenarnya masalah itu tampaknya tefikirkan oleh kebersamaan dan tata cara pemecahannya tampak tidak terfikirkan karya kreatifnya sendiri tidak terselesaikan. Hasilnya adalah reorientasi kearah bidang baru yang mengajari para ahli untuk menyajikan pertanyaan dan mengambil kesimpulan dari data-data lama.

Merekalah yang mula-mula belajar melihat sains dan dunia dengan cara yang berbeda dan kemampuan mereka untuk membuat transisi itu dimudahkan oleh keadaan yang tidak bisa anggota lain andil dalam proesinya.Tampak berubah degan sungguh-sungguh difokuskan pada masalah-masalah yang merangsang krisis dan kecenderungannya orang yang berbeda serta kemampuan untuk membuat transisi dimudahkan oleh dua keadaan yang diluar keadaan yang diluar kebiasaan bagi kebanyakan anggota lain dari profesinya. Biasanya mereka relatif muda atau baru dlam bidang yang dilanda krisis praktek dan kurang mendalam pandangannya pada dunia dan kaidah-kaidah yang ditetapkan oleh paradigma lama. Pekerjaan riset adalah pemecah teka-teki bukan untuk menguji paradigma. Sains berbeda dengan teka-teki dalam pemecahannya, situasi pengujian tidak pernah terjadi semata-mata karena perbandingan suatu paradigma dan alam akan tetapi terjadi karena adanya konpetesi diantara dua paradigma untuk memperebutkan dalam masyarakat sains.

Perubahan-perubahan paradigma menyebabkan para ilmuan berbeda dalam memandang dua riset. Salah satu jalan mereka kejalan itu melalui apayang mereka lihat. Prototipe-prototipe transformasi dunia ilmuan yang elementer seperti inilah yang menyebabkan demonstrasi perubahan dalam gestan visual yang dikenal sugestik. Setelah transformasi, meskipun biasanya bertahap dan hampir semuanya tidak dapat dibalikkan, nampak hal yang umum menyertai latihan sains. Eksprimen-eksprimen gestalt menggambarkan sifat transformasi persepsi tidak harus menerangkan peran paradigma atau eksprimen yang sebeumnya diasimilasikan dalam proses persepsi. Akan tetapi, hal itu terdapat kumpulan pustaka dan psikologi yang kaya.Subyek eksprimen yang mengen akan kaca mata yang dilengkapi lensa pembalik, mula-mula melihat dunia terbalik keatas atau bahkan pada permulaanya berfungsi seperti fungsi yang lebih dilatihkan tampa kaca mata yang akibatnya disorientasi yang ekstrim krisis personal yang gawat.

Kemajuan Revolusi Dan Pasca Wacana –1969

Selama periode paradigma, banyak aliran yang bersaingan, bukti kemajuan, kecuali didalam aliran-aliran sangat sukar ditemukan. Dalam periode revolusi ketika prinsip fundamental suatu bidang dipermasalahkan, keraguan tentang kemungkinan sinambungnya kemajuan diantara paradigma yang menentang ada yang diterima. Implikasinya, kemajuan itu hanya tampak nyata serta pasti dalam periode sains yang normal. Namun, selama periode itu masyarakat sains tidak dapat memandang buah karyanya dengan cara yang lain. Jika hanya kewenangan, dan khususnya jika kewenangan nonprofesional yang menjadi wasit dalam perdebatan paradigma maka hasil perdebatan itu bisa tetap revolusi tetapi bukan revolusi sains. Dasar eksistensi sains bergantung pada pemberian kekuasaan untuk memilih paradigma didalam anggota-anggota masyarakat jenis khususnya.

Setidak-tidaknya secara filosofis, arti kedua dari paradigma merupakan sumber utama berbagai kontaversi dan kesalapahaman.yang pertama berargumentasi bahwa, istilah seperti subyektif dan naluriah tidak tepat di terapkan pada komponen-komponen pengetahuan. Walaupun pengetahuan seperti itu, tanpa perubahan yang esensial, bukan subyek bagi parafrase dari segi kaidah dan kreteria, walaupun ia sistematis. Dalam kesimpulan yang lain mendesak agar orang-orang yang mempertahankan pandangan yang tidak dapat dibandingkan dianggap sebagai anggota-anggota masyarakat bahasa yang berbeda.

Paradigma ialah apa yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota seluruh masyarakat sains dan sebaliknya, masyarakat sains terdiri atas orang-orang yang memiliki suatu paradigma bersama. Masyarakat sains dapat dan seharusnya diisolasi tanpa terlebih dahulu minta bantuan kepada paradigma; kemudian dapat ditemukan dengan meneliti perilaku anggota-anggota masyarakat yang bersangkutan. Anggota senua masyarakat sains termasuk aliran-aliran dari periode praparadigma, memiliki jenis-jenis unsur yan secara kolektif yang berlebel “suatu paradigma”. Anggota-anggota masyarakat yang berbeda kadang-kadang memilih alat yang berbeda dan mengkritik pilihan orang lain. Dan revolusi adalah jenis khusus perubahan yang melibatkan jenis tertentu rekontruksi kometment-kometment kelompok (Paradigma dan struktur masyarakat). Dan masih banyak karakteristik-karakteristik secara esensial seperti paradigma sebagai konstelasi kometmen kelompok, paradigma dan contoh bersama, pengetahuan diam-diam dan naluri, eksemplar, kemustahilan dengan revolusi, revolusi dan relativisme dan sifat sains.

PERBANDINGAN PENDIDIKAN KORSEL DENGAN INDONESIA

STUDI KOMPARATIF PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN DAN DI INDONESIA

Kategori: Makalah Pendidikan
Diposting oleh risyana17 pada Rabu, 12 Mei 2010
[1275 Dibaca] [2 Komentar]Post to TwitterPost to Facebook

STUDI KOMPARATIF PENDIDIKAN DI KOREA SELATAN

DAN DI INDONESIA





Oleh:

RISYANA

20092513032







I. PEDAHULUAN



A. Latar Belakang

Setiap bangsa tentu memiliki sistem pendidikan. Dengan sistem pendidikan itu, suatu bangsa mewariskan segala pengalaman, pengetahuan, keterampilan dan sikap, agama dan ciri-ciri watak khusus yang dimilikinya dengan cara tertentu kepada generasi penerusnya, agar mereka dapat mewariskannya dengan sebaik-baiknya. Melalui siStem pendidikan itu, suatu bangsa dapat memelihara dan mempertahankan nilai-nilai luhur, serta keunggulan-keunggulan mereka dari generasi ke generasi.

Sejalan dengan tumbuhnya perkembangan yang pesat dari ilmu-ilmu sosial pada akhir abad 19, tertuju perhatian pada pengakuan adanya hubungan yang dinamis antara pendidikan dengan masyarakat atau negara tertentu. Pendidikan dipandang sebagai cerminan dari suatu masyarakat atau bangsa, dan sebaliknya suatu masyarakat atau bangsa dibentuk oleh sistem pendidikannya.

Pendidikan komparatif membahas perbandingan secara ilmiah, dan mempunyai tujuan untuk melihat persamaan dan perbedaan, kerja sama, pertukaran pelajar antar bangsa dalam menciptakan pedamaian dunia. Pendapat tersebut sebagai usaha menanamkan dan menumbuh-kembangkan rasa saling pengertian dan kerja sama antar bangsa, demi terpeliharanya perdamaian dunia, melalui peroses pendidikan. Pendidikan komparatif juga diperlukan, untuk melihat kemajuan, kualiatas pendidikan di negara maju dibandingkan dengan dengan negara berkembang.

Studi perbandingan pendidikan merupakan salah satu cara untuk mengetahui berbagai aspek yang berhubungan dengan system pendidikan Negara tertentu, terutama yang berhubungan dengan kelebihan yang terjadi pada system pendidikan negara tersebut. Untuk itulah pada kesempatan kali ini penulis mencoba menguraikan perbandingan pendidikan terhadap Negara Korea Selatan, dan Indonesia. Penulis tertarik untuk mengkaji Negara Korea Selatan ini, dikarenakan Negara ini memiliki kemajuan yang begitu pesat dalam sektor industri, khususnya industri otomotif dan elektronik. Kemajuan ini tidak terlepas dari kemajuan pendidikan di Negara ini, terutama dalam penguasaan teknologi industri.

Makalah ini ditulis atas dasar kajian pustaka dari berbagai sumber yang relevan, makalah ini diharapkan akan dapat menambah bahan, dan kajian penulis tentang pemahaman system pendidikan Negara ini. Yang menjadi perhatian dalam pembahasan makalah ini, hanyalah beberapa aspek penting dari sistem pendidikan di Negara Korea Selatan dibandingkan pendidikan Negara Indonesia.



B. Pembatasan Masalah

Dari latar belakang di atas, studi perbandingan pendidikan antara dua negara tentu sangat luas cakupannya, untuk itu penulis membatasi permasalahan hanya pada: Tujuan pendidikan, jenjang pendidikan formal, dan manajemen pendidikan secara umum di kedua negara tersebut.



C. Rumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, yang menjadi rumusan masalah pada makalah ini adalah:

1. Bagaimana tujuan pendidikan di Korea Selatan dibandingkan dengan tujuan pendidikan di Indonesia?

2. Bagaimana jenjang pendidikan formal di Korea Selatan dibandingkan dengan jenjang pendidikan formal di Indonesia?

3. Bagaimana manajemen pendidikan secara umum di Korea Selatan dibandingkan dengan manajemen pendidikan secara umum di Indonesia?



D. Tujuan Penulisan Makalah

Penulisan makalah ini bertujuan untuk:

1. Untuk mengetahui tujuan pendidikan, jenjang pendidikan formal, dan manajemen pendidikan secara umum di kedua negara.

2. Untuk memberikan wawasan dan masukan yang positif bagi mahasiswa dan guru/tenaga kependidikan dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan.



II. TINJAUAN PUSTAKA



A. Sistem Pendidikan di Korea Selatan

Korea Selatan yang didirikan pada tahun 1948 terletak disemenanjung di daratan Asia Timur, dengan batas-batas wilayah sebelah timur berbatasan dengan lautan pasifik, sebelah selatan berbatasan dengan selat Jepang, disebelah barat berbatasan dengan demarkasi militer (garis lintang 380) yang memisahkan Korea Selatan dan Korea Utara. Penduduk Korea Selatan kurang lebih 47 juta jiwa dengan angka pertumbuhan penduduk rata-rata 1,7%/ tahun dengan kondisi penduduk yang homogen (etnik Korea), dengan angka literasi 98% (world almanae 2000). Adapun system pemerintahan Korea Selatan bersifat sentralistik, dengan system sentralistik ini maka kebijakan-kebijakan pemerintah termasuk di bidang pendidikan dapat dijalankan tanpa harus mendapat persetujuan badan legislative daerah, seperti yang terdapat pada pemerintahan system desentralisasi.



1. Tujuan Pendidikan di Korea Selatan

Salah satu keputusan Dewan Nasional Republik Korea tahun 1948 adalah menyusun undang-undang pendidikan. Sehubungan dengan hal ini, maka tujuan pendidikan Korea Selatan adalah untuk menanamkan pada setiap orang rasa Identitas Nasional dan penghargaan terhadap kedaulatan Nasional, menyempurnakan kepribadian setiap warga Negara, mengemban cita-cita persaudaraan yang universal, mengembangkan kemampuan untuk hidup mandiri dan berbuat untuk Negara yang demokratis dan kemakmuran seluruh umat manusia, dan menanamkan sifat patriotisme.



2. Jenjang Pendidikan di Korea Selatan

Secara umum system pendidikan di korea Selatan terdiri dari empat jenjang pendidikan formal yaitu : Sekolah dasar, Sekolah Menengah Tingkat Pertama, SLTA dan pendidikan tinggi. Keempat jenjang pendidikan ini adalah: grade 1-6 (SD), grade 7-9 (SLTP), 10-12 (SLTA), dan grade 13-16 (pendidikan tinggi/program S1), serta program pasca sarjana (S2/S3).

Visualisasi grade pendidikan yang dimaksud adalah:

a. Sekolah dasar merupakan pendidikan wajib selama 6 tahun bagi anak usia 6 dan 11 tahun, dengan jumlah lulusan SD mencapai 99,8%, dan putus sekolah SD 0,2%.

b. SMP merupakan kelanjutan SD bagi anak usia 12-14 tahun, selama 3 tahun pendidikan.

c. Kemudian melanjutkan ke SLTA pada grade 10-11 dan 12, dengan dua pilihan yaitu: umum dan sekolah kejuruan.

Sekolah kejuruan meliputi pertanian, perdagangan, perikanan dan teknik. Selain itu ada sekolah komperhensif yang merupakan gabungan antara sekolah umum dan sekolah kejuruan, yang merupakan bekal untuk melanjutkan ke akademik (yunior college) atau universitas (senior college).

d. Pendidikan tinggi/akademik (yunior college) atau universitas program S1 (senior college), pada grade 13-16, dan selanjutnya ke program pasca sarjana (graduate school) gelar master/doktor.



3. Manajemen Pendidikan di Korea Selatan

Sistem manajemen pendidikan di Negara ini bersifat gabungan antara sentralistik dan desentralisasi, sifat kesentralistiknya hanya terbatas kepada penyusunan panduan dan pedoman semata, sedangkan operasionalnya secara penuh di serahkan kepada komite/Dewan sekolah secara mandiri untuk mengkaji proses pendidikan secara keseluruhan.

Kekuasaan dan kewenangan dilimpahkan kepada menteri pendidikan. Di daerah terdapat dewan pendidikan (board of education). Pada setiap propinsi dan daerah khusus (Seoul dan Busam), masing-masing dewan pendidikan terdiri dari tujuh orang anggota yang dipilih oleh daerah otonom, lima orang dipilih dan dua orang lainnya merupakan jabatan yang dipegang oleh walikota daerah khusus atau gubernur propinsi. Dewan pendidikan diketuai oleh walikota atau gubernur.

a) Anggaran pendidikan.

Anggaran pendidikan Korea Selatan berasal dari anggaran Negara, dengan total anggaran 18,9% dari Anggaran Negara. Pada tahun 1995 ada kebijakan wajib belajar 9 tahun, sehingga porsi anggaran terbesar diperuntukan untuk ini, adapun sumber biaya pendidikan, bersumber dari: GNP untuk pendidikan, pajak pendidikan, keuangan pendidikan daerah, dunia industri khusus bagi pendidikan kejuruan.

b) Guru/Personalia.

Terdapat dua jenis pendidikan guru, yaitu tingkat akademik (grade 13-14) untuk guru SD, dan pendidikan guru empat tahun untuk guru sekolah menengah. Dengan biaya ditanggung oleh Pemerintah untuk pendidikan guru negeri. Kemudian guru mendapat sertifikat yaitu: sertifikat guru pra sekolah, guru SD, dan guru sekolah menengah. Sertifikat ini diberikan oleh kepala sekolah dengan kategori guru magang, guru biasa dua (yang telah diselesaikan onjob training) dan lesensi bagi guru magang dikeluarkan bagi mereka yang telah lulus ujian kualifikasi lulusan program empat tahun dalam bidang engineering, perikanan, perdagangan, dan pertanian. Sedangkan untuk menjadi dosen yunior college, harus berkualifikasi master (S2) dengan pengalaman dua tahun dan untuk menjadi dosen di senior college harus berkualifikasi dokter (S3).

c) Kurikulum.

Reformasi kurikulum pendidikan di korea, dilaksanakan sejak tahun 1970-an dengan mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu (1) perencanaan pengajaran, (2) Diagnosis murid (3) membimbing siswa belajar dengan berbagai program, (4) test dan menilai hasil belajar. Di sekolah tingkat menengah tidak diadakan saringan masuk, hal ini dikarenakan adanya kebijakan walikota daerah khusus atau gubernur propinsi, ke sekolah menengah di daerahnya.





B. Sistem Pendidikan di Indonesia

Indonesia merupakan negara kepulauan yang berbentuk Republik, terletak di kawasan Asia Tenggara. Indonesia memiliki lebih kurang 17.000 buah pulau dengan luas daratan 1.922.570 km2 dan luas perairan 3.257.483 km2, pada 800 BB dan 1400 BT. Berdasarkan posisi geografisnya, negara Indonesia memiliki batas-batas: Utara - Negara Malaysia, Singapura, Filipina, Laut Cina Selatan. Selatan - Negara Australia, Samudera Hindia. Barat - Samudera Hindia. Timur - Negara Papua Nugini, Timor Leste, Samudera Pasifik.

Indonesia adalah negara demokratis berasaskan keyakinan, bahwa satu lembaga politik harus menjamin adanya kebebasan dan persamaan, di samping menjujung tinggi kekuasaan hukum dan sistem perwakilan rakyat dalam parlemen. Maka tugas pokok negara dan pemerintahan di dalam demokrasi ialah: a) melindungi bangsa dan negara terhadap agresi dari luar dan pengrorongan dari dalam yang merusak kesatuan dan persatuan: b) Menegakkan kekuatan hukum dan menjamin keadilan, serta c) Melaksanakan segenap konvensi dan peraturan, agar tercapai ketenangan, ketenteraman, kedamaian dan kesejateraan di dalam negeri, sebab hukum merupakan kekuatan pokok guna menegakkan ketertiban.

Maka membimbing rakyat itu harus diartikan sebagai mendidik semua warga mayarakat, anak, orang dewasa dan orang lanjut usia, supaya: bisa berkembang dengan bebas dan maksimal, dan mampu melakukan realisai-diri, bekerja dan hidup sejahtera.

1. Tujuan Pendidikan di Indonesia

Salah satu tugas Pemerintah bekerja sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Indonesia adalah menyusun undang-undang pendidikan, dan sebagai hasilnya adalah Undang-undang Sisdiknas no 20 tahun 2003.

Berdasarkan Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, Pendidikan nasional berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945. Pendidikan Nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

2. Jenjang Pendidikan Formal di Indonesia

Menurut Undang-undang no 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pada bab VI pasa 16 disebutkan bahwa jenjang pendidikan formal di Indonesia meliputi tiga jenjang, yaitu: pendidikan Dasar, pendidikan Menengah, dan pendidikan Tinggi.



a. Pendidikan Dasar.

Pendidikan dasar merupakan jenjang pendidikan yang melandasi jenjang pendidikan menengah. Pemerintah menetapkan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun, dan setiap warga negara yang berusia 7 (tujuh) tahun wajib mengikuti belajar pada jenjang pendidikan dasar tanpa dipungut biaya. Pendidikan dasar berbentuk: Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) atau bentuk lain yang Sederajat selama 6 tahun; dan sekolah Menengah Pertama (SMP), Madrasah Tsanawiyah (MTs), atau bentuk lain yang sederajat selama 3 tahun.



b. Pendidikan Menengah.

Pendidikan menengah merupakan lanjutan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas: Pendidikan menengah umum, berbentuk Sekolah Menengah Atas (SMA), Madrasah Aliyah (MA), atau bentuk lain yang sederajat; dan Pendidikan menengah kejuruan, berbentuk Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) atau Madrasah Aliyah Kejuruan (MAK), atau bentuk lain yang sederajat, selama 3 tahun.



c. Pendidikan Tinggi.

Pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma (2-4 tahun); sarjana (4 tahun atau lebih); magister, spesialis, dan doktor (2 tahun atau lebih); yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi.

Perguruan tinggi dapat berbentuk: Akademi, Politeknik, Sekolah Tinggi, Institut, atau Universitas. Perguruan tinggi berkewajiban menyelenggarakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan atau vokasi.



3. Manajemen Pendidikan di Indonesia

Pengelolaan pendidikan di Indonesia merupakan tanggung jawab pemerintah pusat melalui Menteri Pendidikan Nasional, pemerintah Daerah Provinsi, dan pemerintah Daerah Kabupaten/Kota. Ketentuan yang menyangkut pendidikan diatur dalam UU RI No.20 TH 2003 (Sisdiknas ).

Ditinjau dari Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 1 ayat (1) yaitu; Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan darinya, masyarakat, bangsa dan negara. Sedangkan peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan. Oleh karena itu pendidikan dapat diterima dan dihayati sebagai kekayaan yang sangat berharga dan benar-benar produktif. Pelaksanaan desentralisasi pendidikan nasional di Indonesia memberikan keluasan kepada pemerintah daerah dan partisipasi masyarakat utuk turut bertanggung jawab atas kualitas pendidikan di Indonesia.



a. Anggaran Pendidikan

Dalam UU Nomor 20/2003 tentang sistem pendidikan nasional disebutkan bahwa setiap warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Untuk memenuhi hak warga negara, pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib memberikan layanan dan kemudahan, serta menjamin terselenggaranya pendidikan yang bermutu bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah pusat dan pemerintah daerah wajib menjamin tersedianya dana guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara yang berusia tujuh sampai dengan lima belas tahun.

Untuk mengejar ketertinggalan dunia pendidikan baik dari segi mutu dan alokasi anggaran pendidikan dibandingkan dengan negara lain, UUD 1945 mengamanatkan bahwa dana pendidikan selain gaji pendidik dan biaya pendidikan kedinasan dialokasikan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada sektor pendidikan dan minimal 20% dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Sesuai dengan putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 13/PUU-VI I 2008, pemerintah harus menyediakan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20 persen dari APBN dan APBD untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional. Anggaran pendidikan adalah alokasi anggaran pada fungsi pendidikan yang dianggarkan melalui kementerian negara/lembaga dan alokasi anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah, termasuk gaji pendidik, namun tidak termasuk anggaran pendidikan kedinasan, untuk membiayai penyelenggaraan pendidikan yang menjadi tanggung jawab pemerintah.

Sedangkan pengalokasian anggaran pendidikan meliputi alokasi yang melalui beIanja pemerintah pusat dan melalui transfer ke daerah. Sementara untuk yang melalui anggaran pendidikan melalui transfer ke daerah adalah DBH Pendidikan, DAK Pendidikan, DAU Pendidikan, Dana Tambahan DAU, dan Dana Otonomi Khusus Pendidikan.



b. Guru/personalia

Berdasarkan Peraturan Pemerintah no 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, pada pasal 28, bahwa Pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yang dibuktikan dengan ijazah/sertifikat keahlian yang relevan, yang dikeluarkan oleh Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah.

Jenis pendidikan guru yaitu Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang diselenggarakan oleh LPTK yang terakreditasi dan ditetapkan oleh Pemerintah, dengan kualifikasi akademik:

1) Pendidik pada jenjang Pendidikan Dasar minimum D-IV atau S1 pendidikan dasar.

2) Pendidik pada jenjang Pendidikan Menengah minimum D-IV atau S1 pendidikan menengah.

3) Pendidik pada jenjang Pendidikan Tinggi minimum: S1 untuk program Diploma, S2 untuk program sarjana, dan S3 untuk program magister dan program doktor.

c. Kurikulum

Untuk meningkatkan kualitas pendidikan, di Indonesia telah menerapkan enam kali perubahan kurikulum, yaitu kurikulum 1968, kurikulum 1975, kurikulum 1984, kurikulum 2004, dan yang sekarang berlaku yaitu KurikulumTingkat Satuan Pendidikan (KTSP), yang dikeluarkan pemerintah melalui Permen Dinas Nomor 22 tentang standar isi, Permen Nomor 23 tentang standar lulusan, dan Permen Nomor 24 tentang pelaksanaan permen tersebut, tahun 2006.

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan revisi dan pengembangan dari kurikulum Berbasis Kompetensi, atau kurikulum 2004. KTSP lahir karena dianggap KBK masih sarat dengan beban belajar dari pemerintah pusat, dalam hal ini Depdiknas masih dipandang terlalu intervensi dalam pengembangan kurikulum. Oleh karena itu, dalam KTSP bahan belajar siswa sedikit berkurang dan tingkat satuan pendidikan (sekolah, guru dan komite sekolah) diberikan kewenangan untuk mengembangkan kurikulum sesuai dengan potensi yang ada di lingkungannya. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) merupakan bentuk implimentasi dari UU No 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional yang dijabarkan ke dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Peraturan Pemerintah ini memberikan arahan tentang perlunya disusun dan dilaksanakan delapan standar nasional pendidikan, yaitu: (1) Standar Isi, (2) Standar Proses, (3) Standar Kompetensi Lulusan, (4) Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan, (5) Standar Sarana dan Prasarna, (6) Standar Pengelolaan, (7) Standar Pembiayaan, dan (8) Standar Penilaian Pendidikan.





III. PEMBAHASAN

Pada kajian tentang tujuan pendidikan, terlihat bahwa tujuan pendidikan di Korea Selatan dan di Indonesia memiliki hakikat yang sama yaitu memciptakan warga negara yang mandiri, kreatif dengan mengembangkan potensi diri, dan tetap menjunjung tinggi kehidupan berbangsa pada masing-masing negara. Walau demikian ada beberapa hal yang membedakannya yaitu penekanan pada ketaqwaan terhadap tuhan Yang Maha Esa tidak menjadi prioritas dalam tujuan pendidikan di Korea Selatan.

Selanjutnya pada kajian tentang jenjang pendidikan formal, pada dasarnya pola penjenjangan antara kedua negara hampir sama, namun di Korea selatan pada jenjang pendidikan menengah ada sekolah yang khusus di persiapkan bagi siswanya yang akan melanjutkan ke pendidikan tinggi (pendidikan pra perguruan tinggi), sedangkan di Indonesia ini tidak dilakukan. Program ini menurut penulis adalah hal positif yang dapat dicoba di Indonesia, sehingga siswa yang akan melanjutkan ke perguruan tinggi betul-betul telah memiliki persiapan atau modal dasar baginya saat nanti studi di perguruan tinggi.

Kajian berikutnya adalah manajemen pendidikan secara umum di kedua negara, dalam hal ini penulis membatasi hanya pada segi biaya pendidikan, pendidik/guru, dan kurikulumnya saja.

Sistem manajemen pendidikan di Korea Selatan bersifat gabungan antara sentralistik dan desentralisasi, sifat kesentralistiknya hanya terbatas kepada penyusunan panduan dan pedoman semata, sedangkan operasionalnya secara penuh di serahkan kepada komite/Dewan sekolah secara mandiri untuk mengkaji proses pendidikan secara keseluruhan. Kondisi ini berbeda dengan system pendidikan di Indonesia yang sebagian besar bersifat sentralistik, tanpa sepenuhnya memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan proses pendidikan, khususnya aspek anggaran. Sehingga pemerintah harus mengalokasikan anggaran belanja pusatnya sebesar 20% untuk di transfer ke daerah, dan menetapkan peraturan yang mengharuskan pemerintah daerah ikut mengalokasikan anggaran daerahnya untuk pendidikan, yang dalam pelaksanaannya Daerah masih belum manaruh perhatian penuh terhadap pendidikan. Hal positif yang dapat di contoh dari Korea Selatan adalah bahwa sudah sejak lama anggaran pendidikan Korea Selatan berasal dari anggaran Negara, dengan total anggaran 18,9% dari Anggaran Negara dan terus meningkat sejalan dengan kebijakan wajib belajar 9 tahun, sehingga porsi anggaran terbesar diperuntukan untuk ini, serta sumber biaya pendidikan tidak hanya bersumber dari GNP untuk pendidikan saja, melainkan juga dari pajak pendidikan, keuangan pendidikan daerah, dan dunia industri.

Dalam hal pendidik/guru, Indonesia tampaknya mulai berbenah dengan dikeluarkannya Undang-undang, Peraturan pemerintah, maupun Keputusan Mentri tentang tenaga pendidik, yaitu mulai diterapkannya standarisasi/kualifikasi profesi guru melalui sertifikasi dan program pendidikan profesi guru oleh LPTK, yang tentunya berdampak pada kualitas dan kesejahteraan tenaga pendidik. Di Korea selatan hal ini telah lama dilakukan, dengan biaya pendidikan ditanggung oleh Pemerintah untuk pendidikan guru negeri. Sedangkan di Indonesia masih menggunakan biaya pendidikan sendiri.

Kajian dalam hal kurikulum, Reformasi kurikulum pendidikan di korea, dilaksanakan sejak tahun 1970-an dengan mengkoordinasikan pembelajaran teknik dalam kelas dan pemanfaatan teknologi, adapun yang dikerjakan oleh guru, meliputi lima langkah yaitu (1) perencanaan pengajaran, (2) Diagnosis murid (3) membimbing siswa belajar dengan berbagai program, (4) test dan menilai hasil belajar. Di Indonesia untuk mencapai reformasi kurikulum yang di anggap dapat menjawab perkembangan dunia, (yaitu KTSP) harus melalui enam kali perubahan kurikulum. Kurikulum di Indonesia sekarang ini relatif sama dengan Korea selatan, hanya saja di Korea selatan faktor pembelajaran teknik dan pemanfaatan teknologi begitu dominan, sedangkan di Indonesia masih belum merata antara pendidikan di kota dan di daerah. Hal positif yang dapat di ambil contoh dari Korea Selatan dalam hal kebijakan kurikulum adalah di sekolah tingkat menengah tidak diadakan saringan masuk, hal ini dikarenakan adanya kebijakan walikota daerah khusus atau gubernur propinsi, ke sekolah menengah di daerahnya. Bila diterapkan di Indonesia, maka masing-masing daerah akan memiliki banyak siswa yang berpotensi, yang nantinya dapat membangun daerahnya masing-masing dan tidak pergi ke daerah lain.





IV. KESIMPULAN.



1. Tujuan pendidikan di Korea Selatan dan di Indonesia memiliki hakikat yang sama yaitu memciptakan warga negara yang mandiri, kreatif dengan mengembangkan potensi diri, dan tetap menjunjung tinggi kehidupan berbangsa pada masing-masing negara.

2. Jenjang pendidikan formal, pada dasarnya pola penjenjangan antara kedua negara hampir sama, namun di Korea selatan pada jenjang pendidikan menengah ada sekolah yang khusus di persiapkan bagi siswanya yang akan melanjutkan ke pendidikan tinggi (pendidikan pra perguruan tinggi), sedangkan di Indonesia ini tidak dilakukan.

3. Sistem manajemen pendidikan di Korea Selatan bersifat gabungan antara sentralistik dan desentralisasi, sifat kesentralistiknya hanya terbatas kepada penyusunan panduan dan pedoman semata, sedangkan operasionalnya secara penuh di serahkan kepada komite/Dewan sekolah secara mandiri untuk mengkaji proses pendidikan secara keseluruhan. Kondisi ini berbeda dengan system pendidikan di Indonesia yang sebagian besar bersifat sentralistik, tanpa sepenuhnya memberikan kewenangan kepada daerah untuk mengembangkan proses pendidikan.

4. Khususnya aspek anggaran, sumber biaya pendidikan di Indonesia belum memaksimalkan sektor pajak pendidikan, keuangan pendidikan daerah, dan dunia industri.

5. Dalam hal pendidik/guru, di Indonesia dan Korea Selatan sudah diterapkan standarisasi/kualifikasi profesi guru melalui sertifikasi dan program pendidikan profesi guru, hanya biaya pendidikan di Korea Selatan ditanggung oleh Pemerintahnya, sedangkan di Indonesia masih menggunakan biaya pendidikan sendiri.

6. Kurikulum di Korea Selatan telah lama direformasi dengan penekanan pada bidang teknik dan pemanfaatan teknologi, dan di Indonesia sekarang sudah menggunakan kurikulum KTSP lebih memberikan kewenangan sekolah menyusun kurikulumnya sendiri sesuai dengan lingkungan daerahnya dengan tetap menggunakan rambu-rambu dari pemerintah pusat.











































DAFTAR PUSTAKA





DirJen Anggaran Dep.Keu Republik Indonesia. 2008. Anggaran Pendidikan dalam APBN 2009 Perencanaan Anggaran. http://www.anggaran.depkeu.go.id/01/12/2008 15:48:34 /

Eka Wijaya, Ismail. _______. Studi Komparatif Pendidikan di Kawasan Asia: RRC, Korea Selatan Dan Jepang. http://educare.e-fkipunla.net/16/03/2010/

Sisdiknas. UU RI No.20 TH. 2003, Sinar Grafika.

Syah Nur, H.Agustiar (2001). Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara, Lubuk Agung . Bandung

Tilaar, H.A.R . 2002. Membenahi Pendidikan Nasional. PT Rineka Cipta: Jakarta.

Kurikulum Pendidikan Jepang

Penyusunan Kurikulum Sekolah di Jepang (1)
Di Manajemen Sekolah, Pendidikan Jepang dalam Februari 15, 2008 pada 1:02 pm

Bagaimanakah kurikulum di sekolah-sekolah Jepang disusun ? Dan apa saja yang diajarkan kepada anak-anak Jepang ? Saya menjawab pertanyaan ini dengan merangkumkan dari salah satu chapter buku yang direkomendasikan Prof Nanbu ketika suatu kali saya ingin mengetahui lebih banyak tentang administrasi pendidikan di Jepang.

Buku yang direkomendasikan Nanbu sensei berjudul Educational System and Administration in Japan, terbitan Kansai Society for Educational Administration pada tahun 1999. Buku ini barangkali satu-satunya literatur berbahasa Inggris yang disusun oleh pakar pendidikan Jepang yang menceritakan tentang administrasi pendidikan di Jepang. Penerbitannya dalam edisi yang sangat terbatas, dan hanya ada satu exempla di perpustakaan Fak. Pendidikan Nagoya University.

Seperti halnya di Indonesia, di Jepang pun kurikulum disusun oleh sebuah komite khusus dibawah kontrol Kementerian Pendidikan (MEXT). Komisi Kurikulum terdiri dari wakil dari Teacher Union, praktisi dan pakar pendidikan, wakil dari kalangan industri, dan wakil MEXT. Komisi ini bertugas mempelajari tujuan pendidikan Jepang yang terdapat dalam Fundamental Education Law (Kyouiku kihonhou), lalu menyesuaikannya dengan perkembangan yang terjadi baik di dalam maupun luar negeri. Namun, karena unsur politik sangat kental mewarnai wakil-wakil yang duduk dalam komisi ini maka tak jarang terjadi perdebatan panjang terutama antara wakil teacher union dan wakil kementerian dalam penyusunan draft kurikulum.

Pembaharuan kurikulum di Jepang berlangsung setiap 10 tahun sekali, dan kurikulum terbaru yang diterbitkan di tahun 1998 adalah pembaharuan ketujuh sejak kurikulum yang diterapkan pada Perang Dunia II.

Kurikulum 1998 membawa angin baru dalam dunia pendidikan Jepang. Kurikulum ini berbeda dengan kurikulum sebelumnya berdasarkan konsep yang dibawanya yaitu pendidikan yang berorientasi kepada pengembangan beragam personality siswa, bukan seperti sebelumnya yaitu common education, atau pendidikan yang sama untuk semua siswa.

Guru-guru di Jepang sejak perang percaya bahwa pendidikan harus bersifat massal dan sama, bahkan pendidikan yang menjurus kepada kekhasan tertentu atau menerapkan pola/metode yang lain daripada yang lain dianggap salah. Guru-guru Jepang senantiasa menjaga image bahwa semua siswa harus memiliki prestasi yang sama, kedisiplinan yang sama dengan sistem pendidikan yang serupa. Namun adanya kurikulum baru menyadarkan mereka bahwa setiap anak punya potensi yang berbeda dengan lainnya, dan inilah yang harus dibina.

Kurikulum yang baru bersifat fleksibel dan memungkinkan sekolah untuk meramu kurikulum sendiri berdasarkan kondisi daerah, sekolah dan siswa yang mendaftar. Sebagai contoh, di SMP, selain mata pelajaran wajib, siswa juga ditawarkan dengan mapel pilihan.

Dengan adanya kurikulum baru ini, training besar-besaran dilakukan untuk mengubah pola pikir guru-guru Jepang. MEXT juga merevisi beberapa buku pelajaran, dan secara hampir bersamaan mengusulkan pemberlakuan 5 hari sekolah dan adanya jam khusus untuk pengembangan jiwa sosial siswa melalui integrated course atau sougoteki jikan.

Kurikulum di level sekolah disusun dengan kontrol penuh dari The Board of Education di Tingkat Prefectur dan municipal (distrik). Karena kedua lembaga ini masih terkait erat dengan MEXT, maka pengembangan kurikulum Jepang masih sangat kental sifat sentralistiknya. Namun rekomendasi yang dikeluarkan oleh Central Council for Education (chuuou shingi kyouiku kai) pada tahun 1997 memungkinkan sekolah berperan lebih banyak dalam pengembangan kurikulum di masa mendatang.

Beberapa hal berikut harus diperhatikan ketika sekolah menyusun kurikulumnya :
1. Mengacu kepada standar kurikulum nasional
2. Mengutamakan keharmonisan pertumbuhan jasmani dan rohani siswa
3. Menyesuaikan dengan lingkungan sekitar
4. Memperhatikan step perkembangan siswa
5. Memperhatikan karakteristik course pendidikan/jurusan pada level SMA

Secara garis besar penyusunan kurikulum sekolah adalah sebagai berikut :
1. Menetapkan tujuan sekolah
2. Mempelajari standar kurikulum, dan korelasinya dengan tujuan sekolah
3. menyusun course wajib dan pilihan untuk SMP dan SMA
4. Mengalokasikan hari efektif sekolah dan jam belajar.